Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com


Pemberian Dosis Pupuk NPK Pada Tanaman Jeruk Siam Madu Di Kabupaten Karo Cetak E-mail
Info Aktual
Oleh P. Nainggolan   
Kamis, 03 April 2014 11:55

Kegiatan penelitian ini dilakukan oleh BPTP Sumut dengan Pemerintah Kabupaten Karo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metoda pemberian pupuk yang sederhana dan praktis digunakan oleh petani jeruk di Kabupaten Karo. Penelitian dilakukan di kebun jeruk siam madu milik petani di Desa Surbakti, jenis tanah Andisol yang berada pada ketinggian 1.200 m dpl, dari bulan Januari hingga Desember 2005.

Umur tanaman jeruk yang diperlakukan adalah 9 tahun setelah tanam. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan pemupukan yang dicobakan adalah: A). Dosis perlakuan menurut petani (kontrol), B). Dosis pupuk berdasarkan umur tanaman, C). Dosis pupuk 1% dari produksi buah, D).  Dosis pupuk 3% dari produksi buah, E). Dosis pupuk 6% dari produksi buah, F). Dosis pupuk   9% dari produksi buah, G).  Dosis pupuk 12% dari produksi buah. Jumlah pohon yang digunakan sebanyak 42 pohon yang dipilih dari pohon yang relatif sama. Sebagai dasar menentukan produk buah diambil dari data rata-rata produksi buah pohon-1 pada tahun 2004, yaitu 55 kg.pohon-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis pupuk N, P, dan K berdasarkan produksi buah lebih efektif dibandingkan dengan pemupukan berdasarkan umur tanaman jeruk dan pemupukan menurut petani. Pemberian pupuk Urea, ZA, SP-36 dan ZK setara dengan 3% dari produksi buah pada tanaman jeruk siam madu umur 9 tahun adalah yang terbaik.

Dari hasil pengamatan produksi buah disajikan pada Tabel 2, memperlihatkan bahwa pemberian pupuk yang dosisnya ditentukan berdasarkan produksi buah nyata lebih banyak, bila dibandingkan dengan pemberian pupuk berdasarkan umur tanaman jeruk maupun cara menurut petani.  Pemberian pupuk Urea+ZA, SP-36, dan ZK setara dengan 6% dari produksi buah menghasilkan produksi buah lebih tinggi, yaitu 59,40 kg.pohon-1 tahun-1, disusul dengan 3% (59,10 kg.pohon-1 tahun-1) akan tetapi tidak berbeda nyata. Sedangkan pemberian dosis pupuk lebih dari 6% produksi buah nampaknya cendrung menurunkan produksi. Pemupukan dengan cara petani memiliki kelemahan karena sumber hara K hanya berasal dari pupuk majemuk NPK (15-15-15), sedangkan unsur N dan P selain dari pupuk majemuk NPK, juga diberikan dari pupuk Urea dan SP-36, sehingga diduga terjadi ketidakseimbangan pupuk yang diberikan, walaupun hasil analisa tanah memperlihatkan kandungan K-dd tanah (0,49 me 100 g-1) termasuk ketegori sedang.

Pemupukan yang didasarkan pada umur tanaman (anjuran sementara) kurang efektif, mengingat umur tanaman tidak selalu mencerminkan kebutuhan hara sesungguhnya, apalagi kalau perawatan tanaman tidak intensif. Diantara perlakuan pemberian pupuk yang didasarkan pada produksi  nampaknya pemberian pupuk setara dengan 3% buah sudah cukup dan penambahan pupuk di atas 3% tidak lagi efektif meningkatkan hasil buah jeruk. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Sutopo, dkk., (2005) yang menyatakan dosis pupuk NPK (10 N: 3 P: 2 K) yang dianjurkan untuk jeruk Siam Ponorogo adalah 2% dari bobot buah yang dipanen.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com